Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Juli 2017

Alasan Mengapa Saya Pensiun Dari Atlet Hockey--Dunia Yang Telah Saya Geluti Lebih Dari 11 Tahun!

Sebagian besar teman hockey saya keheranan, "Mas, kamu punya skill bagus, pengalaman banyak, visi bermain udah terlatih, tapi kok BERHENTI DARI ATLET HOCKEY? Padahal kan kesempatannya ada banget. Apalagi kalo even-even besar seperti ini...."

Hm...

Sebelumnya, cobalah Anda bayangkan keadaan seperti di bawah ini...

Ketika berusia 12 tahun, saya memulai menggeluti profesi sebagai atlet hockey dan saya bersungguh-sungguh dalam menjalaninya. Lalu karena serius dan semangat dalam berlatih, di usia 18 tahun saya sudah mengikuti kejuaraan senior. Saya memenangkan banyak turnamen. Terpilih menjadi best player dan mendapat gelar top scorer. Tidak jarang saya melawan orang dengan fisik yang jauh lebih besar. Bersama tim, saya bisa mengalahkan orang2 yang bahkan lebih tua dan lebih senior...

Orang-orang bilang ini adalah bakat. Padahal bakat adalah suatu kerja keras rutin yang selalu konsisten dan terjaga pelaksanaannya.

Menjadi atlet hockey itu harus intensif. Saya latihan dengan durasi 3 jam, 6x dalam sepekan. Bahkan bisa 8x dalam sepekan. Lebih dari itu, saya pernah latihan pagi, siang sore, dan juga malam. Dan itu rutin, alias bukan hanya sekali. Bahkan saya pernah mengalami cedera lutut dikarenakan over training.

Masyo Hockey

Dari hockey...

Saya mendapatkan banyak teman. Berkenalan dengan orang2 yang daerahnya sendiri belum pernah saya kunjungi.
Saya pernah dikejar dan dimintai foto. Bersalaman dengan orang yang tangannya bergetar karena gerogi bertemu saya. Bahkan pernah dimintai tanda tangan oleh orang yang kagum dengan permainan saya.

Dari hockey...

Saya pernah mendapatkan penghasilan bulanan. Hidup dengan tanggungan yang dibiayai oleh hockey. Saya pernah ditawari beasiswa kuliah penuh sampai sarjana di salah satu universitas ternama. Diajak untuk main ke luar negeri. Bahkan pernah ditawari untuk main membela suatu daerah langsung masuk tanpa seleksi. Dan banyak lagi...
Semuanya dari hockey. Jadi wajar ketika saya memutuskan untuk BERHENTI, orang-orang lalu bertanya, "Mengapa?"

'Mengapa' adalah suatu pertanyaan yang membutuhkan alasan. Lalu, saya berikan mereka alasannya...

Karena...

"HIDUP ADALAH PILIHAN. Dan itu pilihan saya."

Biasanya ada beberapa teman yang balik bertanya, "Iya, kenapa ente ambil PILIHAN itu?"
Saya menjawab, "Ya nggak apa2. Memang mau aja. Memang itu pilihan saya... :D "

Hidup itu pilihan. Begitulah jawabannya--sederhana.

Hidup itu memang sederhana. Paling tidak, buatlah hidup itu supaya jadi sederhana. Jika Anda memiliki hidup yang ruwet dan penuh dengan kekusutan, jangan pernah salahkan hidup. Salahkanlah diri Anda sendiri yang tidak menyederhanakannya. #Quote

Banyak dari sahabat saya yang dulu berlatih atau tanding bersama, sekarang sudah bermain untuk membela daerahnya masing-masing. Bahkan, adik saya sendiri sudah menjadi atlet hockey yang mewakili salah satu daerah jawa. Mereka bertemu, berkompetisi, dan bertanding dalam satu even olahraga besar yang diselenggarakan pada September 2016 ini.

Semangat! Berjoeanglah kawan! Doaku menyertai kalian...

Terus junjung tinggi sportivitas. Bela-lah daerahmu sebagaimana engkau membela harga dirimu.
Lakukanlah yang terbaik dan raihlah medali emas!!!

Itulah pilihannya. Sederhana...

#PensiunDariAtlet
#BukanBerartiKeluarDariDuniaHockey
#UdahJadiCoachNih
#Hehehe... ^_^

Al-Zaytun, 18 September 2016.

Hockey Indonesia


Lakukan Karena Allah

Sudah kerja keras, belajar sana sini, membaca ini itu, melakukan ABCD, tapi kok hasilnya sama?

Jika hidup Anda selalu dipenuhi masalah, cobalah tengok lagi kepada diri Anda sendiri. Apakah Anda selalu mengingat-Nya? Apakah yang Anda lakukan adalah dalam rangka berbidah kepada-Nya?

Apapun upaya manusia, jika tidak diiringi dengan aktivitas ibadah, maka hasilnya sia-sia. Karena tanpa ridho-Nya, apa yang sudah kita siapkan matang-matang pun selalu saja ada halangan.

Tanpa ridho-Nya, selalu saja ada permasalahan dan halangan yang datang meski semua sudah dipersiapkan.

Oleh karena itu, perbanyaklah ibadah kepada-Nya. Perbanyaklah dzikir di waktu siang dan malam. Perbanyaklah bacaan Al-Qur'an di dalam kehidupan. Dan sisipkanlah do'a di setiap apa yang Anda lakukan.

Sebelum melakukan kegiatan, tanyalah kepada diri Anda sendiri: "Sudahkah segala yang kulakukan ini berdasarkan niat ibadah kepada-Nya?"

Semoga kita termasuk ke dalam golongan hamba yang diridhoi-Nya.

#SelfReminder
#ThanksForReading
#ThanksForSharing

Indramayu, 4 September 2016.

Lakukan Karena Allah



Sabtu, 16 Juli 2016

Pantang Menyerah

Tidak ada alasan untuk tidak melangkah maju!

Kita tidak harus melewati apapun melainkan diri kita sendiri di tiap harinya.

Bukan karena kita tidak mampu. Tapi karena kita menyerah dan menyatakan bahwa kita lemah.

Ingatlah, Tuhan tidak akan memberikan ujian melainkan di bawah kemampuan hamba-Nya.

Taruhlah diri kita dalam keadaan yang paling sulit. Karena disanalah kemampuan kita juga akan semakin besar.

Indramayu, 16/3/2015.

Pantang Menyerah

Bersyukur...

Mengapa harus ada keluh, kufur, dan iri?

Cukup itu karena kita meluaskan hati, bukan karena diperbudak sifat dengki.

Bahkan ketika rasa manis itu berubah menjadi pahit, Bersyukurlah!

Bersyukurlah karena kita masih dapat mengecap nikmatnya pahit itu sendiri!

Al-Zaytun, 30/5/2015.

Bersyukurlah...

Selalu Ada Harapan

Tak ada alasan kehilangan asa untuk dimaafkan.

Ketika seorang keturunan Adam berputus asa karena gunungan dosa yang telah menimpanya, saat itulah ia menyerah, pasrah, membiarkan hatinya teriris bersama tangis yang memilukan.

Semuanya habis, takkan pernah dosa terampuni, musnah sudah harapan, bahkan datang bisikan ke dalam hati mengatakan, "Mati dan mempersiapkan diri disiksa Zabaniyah adalah lebih baik dari pada berlama hidup dan mengumpulkan pundi dosa."

Namun percalah, selalu ada harapan bahkan ketika semuanya lenyap.

Tarik nafas dalam-dalam, tenangkan hati dan fikiran, lalu dengarkanlah Tuhanmu berfirman:

Katakanlah (Muhammad): "Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S. Az-Zumar 39 : 53)

Alhamdulillah ... Al-Zaytun, 9/4/2015.

Silakan dishare ... Semoga bermanfaat. :)

Selalu Ada Harapan

Menangis Bukan Berarti Lemah

Fitrah manusia adalah menangis.

Rasulullah saw menangis karena tahu ada sebagian hamba-Nya yang nanti akan menjadi penghuni neraka. Bayi menangis saat ia dilahirkan dan itulah pertanda bahwa ia dalam kondisi yang sehat. Dan orang yang bertaubat menangis saat ia mengingat kembali dosa-dosa yang pernah dilakukannya.

Menangis itu normal.

Menangislah ketika keadaan memaksamu untuk menangis.
Menangislah terhadap dosa-dosa yang telah engkau lakukan.
Menangislah jika itu yang kau butuhkan.
Menangislah jika itu menjadikanmu lebih kuat.

Karena menangis itu wajar ... Air mata adalah karunia.

Tapi janganlah kau terlena. jadikan tangisan itu sebagai cambuk untuk bergerak lebih cepat, lebih giat, bangkit, dan jadilah yang lebih hebat.

Karena...

Usai rasulullah saw menangis, beliau menjadi lebih giat dalam berdakwah.
Usai seorang hamba menangis, dia menjadi lebih berhati-hati terhadap dosa.
Usai seorang yang sakit menangis, dia menjadi lebih peduli terhadap tubuhnya.

Menangislah jika kamu perlu. Nikmati ia beberapa saat. Lalu usap air matamu, dan yakinlah Tuhan Menginginkanmu agar menjadi pribadi yang lebih kuat. Allah selalu bersamamu bahkan di saat kamu sendiri. Pertolongan Allah itu dekat. Berdoalah dan imbangi ia dengan perbuatan baik. Ingat satu kata yang kau butuhkan setelah tangisan itu ... Bangkit! Bangkit! bangkit!

Indramayu, Februari 2016.

Boleh dishare... ^_^

Menangis Bukan Berarti Lemah

Jumat, 15 Juli 2016

Hockey Itu Bukan Olahraga

"Mas, olahraganya apa?"

"Apa aja bisa. Sepak bola, volley, basket, renang, futsal, badminton, dll."

"Lho, mas kan anak hockey, latihan hockey, dan ngelatih hockey. Kok hockey nggak disebut?"

"Memang, bagiku hockey itu bukan olahraga."

"Maksudnya mas?"

"Hockey itu lebih dari olahraga. Tahun 2005 saya kenalan sama dia. Saya pernah ngerasain seneng, sedih, kocak, terharu, dll bersama dia, pokoknya semuanya deh. Manis asem pahit asin. Sampe gurih pedasnya pernah saya rasain.

"Udah lama saya bareng dia. Setengah dari umur saya ditemani oleh dia. Dan setelah saya resapi, bagi saya; dia itu dah jadi sesuatu yang lebih dari sekedar sahabat, dia sudah menjadi keluarga.

"Saya sakit, kalo dia sakit. Saya marah, kalo dia diganggu. Dan saya akan perbaiki, kalo dia ada kesalahan.

"Pokoknya sesuatu deh. Biar kamu gampang paham n ngerti, simpelnya hockey itu bukan soal fisik dan lari-lari, tapi soal perasaan dan hati.

"Jadi, andai kata ditanya sama orang, "Hockey itu olahraga bukan?"

Pasti, dengan yakin akan saya jawab...

"Bukan! Hockey sudah lebih dari itu. Hockey itu keluarga. Dan bagi saya terutama, hockey sudah menjadi separuh jiwa. Hockey itu untuk selamanya. Dia adalah kenangan dan masa depan. Tidak bisa dilupakan, dan tidak bisa ditinggalkan..."

Al-Zaytun, 14/3/2016.

Hockey itu keluarga. Dan bagi saya terutama, hockey sudah menjadi separuh jiwa. Hockey itu untuk selamanya. Dia adalah kenangan dan masa depan. Tidak bisa dilupakan, dan tidak bisa ditinggalkan...

Boleh dishare... ^_^

Olahraga Hockey

Minggu, 03 Juli 2016

Masjid Kubah Mas

Setelah melewati gerbangnya, kita akan melihat bangunan besar berdiri kokoh di tengah rumput-rumput yang indah. Terpampang di sana, pemandangan menakjubkan tanda kebesaran suatu agama.

Masuk ke dalam, kita dapat menikmati kemegahan desain bangunan itu. Dibangun dengan niat yang tulus dan ikhlas sehingga menghasilkan bentuk cantik yang berkualitas.

Terdengar suara merdu seorang Qori membaca Al-Qur'an. Aku gemetaran. Batinku seperti di serbu banyak-banyak penyesalan. Dosa-dosa yang lalu baru kuingat. Seperti lubang besar dengan hitam yang pekat.

Beruntung, aku masih diizinkan shalat dan bertaubat. Di masjid inilah kulaksanakan shalat jum'at.

Sobat, masjid adalah salah satu indikator kebersaran Islam. Berkunjunglah ke masjid-masjid besar dengan tujuan agar iman meningkat. Dan sebelum mengunjungi masjid-masjid luar negeri, berkunjunglah ke masjid besar di tanah air ini.

Masjid Kubah Mas, 5/2/2016.

Yang mau share, boleh... :)

Di Masjid Kubah Emas

Lakukan Dengan Hati

Setiap orang pasti sudah tahu, atau paling tidak sudah mendengar kata “hati”. Ya. Hati bisa kita maknai sebagai seonggok daging yang melekat dalam tubuh manusia yang memiliki peran sebagai “penawar” atau “pembersih” terhadap racun-racun yang ada dalam tubuh kita. Kotoran dan sampah-sampah yang merusak indahnya sistem pencernaan dalam tubuh dapat kita bersihkan dengan hati.

Tetapi di lain sisi, hati juga dapat kita terjemahkan sebagai satu sisi dari naluri kita, rasa, atau fikiran yang sifatnya baik dan berfungsi sebagai pembersih dari pikiran-pikiran kita yang bersifat kotor, yang membersihkan tidak hanya fikiran kotor seseorang, mungkin juga orang lain yang mengenal hatinya.

"Hati mengalahkan segala keburukan. Ia adalah telaga bagi tanah yang gersang. Ia mengalahkan rasa takut, ragu-ragu, dan rasa benci. Ia adalah hijauan bagi sebuah kehidupan"

Berbicara tentang hati, aku memiliki sedikit cerita tentangnya. Kisah ini kualami ketika aku masih kecil. Saat itu aku dan keluarga tinggal mengontrak di daerah Jakarta Timur. Rumah kami terletak tepat di tengah-tengah dari barisan rumah kontrakan kecil di sana. Saat itu kira-kira tahun 2001, dan usiaku sekitar 6 tahun.

Kira-kira matahari tepat berada di atas kepala kita. Saat itu aku merasa suhu Jakarta begitu panas. Oleh karena itu aku pergi ke teras rumah berharap ada angin sepoi-sepoi datang menghilangkan suntukku akan cuaca siang itu. Aku duduk di atas tembok yang dibangun dengan tinggi seukuruan pinggang orang dewasa. Aku melihat kondisi sekitar yang saat itu cukup sepi. Tentu saja, di depan kontrakan ini hanyalah sebuah tembok besar tua yang sudah digandrungi banyak lumut. Hm, tapi aku cukup bahagia saat itu, kau tau kenapa? Tak menunggu begitu lama, semilir kecil angin yang kuharapkan datang meniup dan menyejukkan suasana siang itu.

Di tengah keasyikanku menikmati lembutnya hembusan angin, aku dikejutkan oleh suatu hal. Tiba-tiba terdengar ramai suara anak-anak dari jauh namun semakin mendekat. Kepalaku yang sebelumnya nikmat menyandar ke dinding pun reflek berubah haluan menengok ke daerah dari mana suara itu berasal.

Mataku terarah pada seseorang yang kini muncul perlahan dari depan rumah kontrakan yang paling ujung. Rambutnya gimbal seperti tidak keramas lama sekali. Wajahnya kotor tak terurus. Dan pakaiannya kumal tanpa penjelasan. Satu yang unik darinya adalah dipundaknya terdapat sebuah selendang merah yang menggendong suatu benda. Dan benda itu seperti bantal kapuk kecil. Ia menggendong bantal itu persis seperti ibu-ibu menggendong bayi dengan selendangnya. Dari melihatnya beberapa saat, aku langsung dapat mengenalnya. Maksudku, aku tahu siapa dia. Ia adalah seorang perempuan yang memiliki keterbelakangan mental —saat itu kami biasa menyebutnya “orang gila”— yang ada di daerah kami. Menyedihkan. Entah apa yang sedang terjadi. Ia berteriak histeris sambil tangannya bergerak-gerak seperti mengusir dan menolak sesuatu.

“Tuk...” Suatu benda keras telah menimpanya. Aku lihat benda itu kemudian terjatuh ke tanah. Ternyata sebuah batu kecil.

“Tuk...” Lagi-lagi lemparan batu kecil itu mengenai tubuhnya.

Perlahan kuketahui apa yang membuat ia histeris berteriak. Segerombolan anak-anak kecil sedikit demi sedikit menyusul dari depan rumah kontrakan yang paling ujung. Mereka membawa batu kecil yang kemudian dilemparkannya kepada wanita tersebut. Jika batu-batu ditangannya habis, mereka akan memungutnya dari tanah kemudian melemparkannya lagi kepada wanita itu. Mereka sama sekali tak merasa bersalah. Bahkan tertawa gembira sambil terus melakukan hal tak terpuji tersebut.

Aku merasa sedih dan iba. Tapi aku tak berani mengusir gerombolan anak itu. Mereka lebih besar dariku. Aku masih duduk di bangku kelas satu dan mentalku masih ciut. Aku hanya bisa melihat wanita malang itu berteriak dan menderita karena dilempari batu-batu oleh segerombolan anak nakal. Mereka terus melemparinya dengan batu. Bahkan salah satu dari mereka ada yang memukul dan mendorong-dorong kepalanya.

Wanita malang itu berjalan mundur dengan perlahan. Anak-anak itu seperti menggiringnya. Dan kini, ia tepat berada di depan rumahku. Saat itu aku berharap agar anak-anak itu menggiringnya sampai ujung kontrakan dan menghilang begitu saja agar aku bisa kembali menikmati angin dan keadaan kembali tenang.

Tetapi malah wanita itu duduk. Ia duduk tepat berada di depan rumahku. Aku menjadi semakin bingung harus berbuat apa. Ia duduk tertunduk sambil tangannya menutupi kepalanya, mencoba berlindung dari kerikil-kerikil yang diluncurkan oleh anak-anak itu. Gerombolan nakal itu masih melemparinya dengan batu. Ia tersiksa, dan anak-anak kecil itu tertawa. Sedangkan aku terdiam.

Ibuku keluar karena mendengar sedikit keramaian terjadi di depan rumahnya. Ia melihat kejadian itu—gerombolan anak nakal menyakiti wanita gila yang tengah duduk pasrah persis berada di depan rumah. Maka ibu langsung mengusir gerombolan anak pengganggu tersebut. Dan anak-anak itu akhirnya pergi. Akhirnya ... Aku tersenyum lega.

Tetapi kini aku melihat sebuah pemandangan pilu; seorang wanita yang memiliki keterbelakangan mental, kumuh, dan menyedihkan, duduk menangis di depan rumahku. Tangannya melingkar memeluk kakinya yang ia tekuk. Wajahnya tak terlihat karena ia tundukkan tepat di atas lututnya. Sebuah pemandangan persis di TV yang menggambarkan tanda-tanda orang depresi. Kini aku menoleh ke arah ibu, sorot matanya memberi tahuku bahwa ia merasa sedih dan iba.

“Yo, tolong kasih dia makan, juga minum. Kasihan ... Dia haus.” ibuku berkata pelan sambil tetap menatapnya. “Hmm, tahu dari mana ibu bahwa ia haus dan lapar...” pikirku.

Baru saja aku ingin bangkit mendengar perintah ibuku. Tetapi baru setengah bangkit, sebuah kalimat susulan membuatku duduk lagi.“Tunggu disini, Yo ... Biar ibu saja yang ambilkan.” Setelah itu ibu masuk kedalam rumah.

Lakukan Dengan Hati

Kini hanya aku sendirian terduduk menatap wanita kumuh yang seperti orang depresi itu. Ia benar-benar tak menampakkan wajahnya. Tangannya yang melingkar itu tak berubah. Tangisnya pun tak berhenti. Aku melihat tubuhnya sedikit bergetar, mungkin karena ia menangis sampai sesungukkan. Ngeri juga batinku saat itu. Namun, hati kecilku tetap merasa kasihan padanya.

“Yo...” suara ibu memanggilku.

Aku masuk kedalam rumah dan kemudian keluar dengan membawa sepiring makanan dan segelas air. Ibu menyuruhku untuk memberikan makanan ini padanya. Tentu saja ini tidak begitu sulit bagiku.

Aku melangkahkan kakiku mendekatinya. Dan ketika aku sudah dekat dengannya, aku sangat kaget karena sebuah kejadian tiba-tiba terjadi. Wajahnya yang tertunduk itu tiba- tiba terangkat! Ia mengeluarkan suara-suara yang begitu aneh “Waoo! Waoo!” Dan tangannya tiba-tiba bergerak melambai seakan-akan ingin menarikku!

Waiyyaaa…!!! Otomatis aku meloncat mundur kebelakang karena sangat terkejut. Untung air dan makanannya tidak tumpah.

Setelah kejadian itu selesai ia tertunduk lagi seperti semula. “Wah, ngeselin..." pikirku.

Kini aku kembali menatapnya seperti semula. Yang kulihat pun adalah pemandangan yang sama. Aku mencoba berjalan lagi mendekatinya. Kali ini agak takut dan ragu-ragu. Dan sekali lagi…

Waiyyaaa...!!! Aku mundur lagi karena ia mengulang kejadian yang sama sambil mengeluarkan suara yang bagiku menakutkan. Dan kau tahu sahabat, berkali-kali aku mendekatinya, dan berkali-kali juga kejadian itu terulang.

Aku berdiri mencari ide agar bagaimana tugas ini selesai. Tik tok tik tok ... Aha!

Aku berjalan mengendap-endap pelan. Kali ini aku mendekatinya dari samping. Pelan-pelan, dan kali ini lebih berhati-hati. Napasku kutahan. Mataku tak lepas dari memandangnya karena aku sangat waspada. Perlahan-lahan ... sedikit lagi, pikirku. Dan ketika aku merasa sudah agak dekat, kuletakkan piring dan gelas itu di sampingnya. Lalu aku mengendap-endap menjauh. Dan ... Ya, selesai! Aku sukses!

Aku menghembuskan nafas lega setelah kupikir semua beres. Aku tersenyum lebar. Haha, salah satu tantangan besar dalam hidup ini berhasil kulewati, pikirku.

Namun aku salah, ketika aku berdiri memandangnya, semua sama persis seperti semula; seorang wanita kumuh sedang duduk tertunduk diam dengan background tembok tua yang lusuh. Hanya saja kali ini di sampingnya, hm ... Maksudku agak jauh di sampingnya; terdapat segelas air dan sepiring nasi yang tadi kuletakkan.

Senyum yang tadi tersungging di bibirku pun perlahan pudar. Aku sadar, misi ini telah gagal. Aku tidak memberinya makan dan minum, tetapi hanya meletakkan makanan dan minuman itu di sampingnya. Maksudku, agak jauh di sampingnya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kecuali...

“Mama...” Aku merengek memanggil ibu. Aku sadar aku telah kalah.

Ibuku keluar tak lama setelah mendengar rengekkanku. “Ada apa?” tanyanya. Aku tak menjawab. Ibu hanya menatapku dan menatap keadaan sekitar. Sepertinya ia sadar apa yang telah terjadi. Kemudian ia bergumam kecil, “Hm ... Ya sudah, nggak apa-apa.”

Ibu berjalan kearah wanita itu tanpa rasa takut sama sekali. Justru aku yang kini berdiam, malah tetap digandrungi rasa takut. Aku takut karena telah mencoba mendekatinya dan mendapatkan sebuah kejadian. Hanya saja ibu belum tahu.

Ibu semakin dekat dengannya. Aku cemas. Aku tahu apa yang akan terjadi. Dan itu benar!

“Waoo! Waoo!” Lagi-lagi kepala wanita gila itu terangkat. Tangannya diulur seakan ingin menakut-nakuti ibuku sambil ia mengeluarkan suara yang aneh-aneh.

Ibuku sedikit terkejut layaknya aku. Tapi sikapnya berbeda denganku, ia tetap berjalan mendekati wanita itu. Ia raih tangan wanita itu, lalu dikendalikannya perlahan. Ibu mengelus kepalanya. “Sini sayang ... nggak apa-apa.” Ibuku bersikap lembut dan tak terlihat sedikitpun rasa takut di matanya.

Perlahan wanita itu melemah. Ibuku mengambil segelas air yang kuletakkan tadi. Diberikannya kepada wanita itu, dan ia meminumnya. Lalu ibu mengambil sepiring makanan yang juga tadi kuletakkan. Awalnya disuapinya wanita itu oleh ibu beberapa suapan. Namun setelah itu ibu mengajarinya untuk makan sendiri. Setelah ia makan sendiri, beberapa saat kemudian ibu pergi masuk kerumah untuk melanjutkan pekerjaannya. Dan sebelum masuk rumah, ia tersenyum padaku.

Kini yang kulihat adalah pemandangan yang berbeda dari sebelumya; seorang wanita kumal sedang menikmati sepiring makanan--yang diberikan ibuku, dengan segelas air berada di depannya. Aku memang tak begitu jelas melihat senyumnya, tapi aku tahu dan aku yakin, ia lebih bahagia dari sebelumnya.

Luar biasa. Hari itu ibu mengajariku suatu pelajaran, yang aku baru sadar dan mempelajarinya beberapa tahun kemudian setelah tumbuh dewasa. Ibu mengajarkanku tentang kasih sayang dan bagaimana berbuat dengan hati.

Aku baru menyadari, dari mana ibu tahu bahwa wanita itu kelaparan, ia melihatnya dengan hati. Aku tahu bagaimana ia menyadari keadaan setelah aku merengek, ia merasakannya dengan hati. Dan aku tahu mengapa wanita itu melembut tanpa ibu mengucapkan sepatah katapun kepadanya. Ya, sebenarnya ibu berbicara kepadanya—hanya saja lewat hati.

Hati mengalahkan segala keburukan. Ia adalah telaga bagi tanah yang gersang. Ia mengalahkan rasa takut, ragu-ragu, dan rasa benci. Ia adalah hijauan bagi sebuah kehidupan.

Indramayu, 2013.

Bagikanlah hal-hal bermanfaat kepada sahabat atau keluarga Anda... :)

Sabtu, 02 Juli 2016

Mengapa Rezekiku Tidak Bertambah?

Di dunia ini, ada sebagian orang yang tidak bersyukur atas apa yang ia telah dapatkan. Wajarlah, ketika pengangguran, dia butuh pekerjaan. Setelah dapat pekerjaan, ingin jadi pengusaha. Sudah berpenghasilan jutaan, ia mau milyaran. Sudah milyaran, ia ingin trilyunan. Dan seterusnya seperti itu, tidak akan pernah sampai pada ujungnya.

Apakah itu salah?

Tidak! Justru itu baik dan memang seharusnya seperti itu. "Barang siapa yang hari ini sama seperti kemarin, maka merugilah ia (HR Hakim)." Begitu kiranya bunyi sabda panutan kita; Rasulullah Muhammad saw.

Lantas, apa yang salah dari pengangguran sampai trilyunan tadi? Semoga Anda menangkap maksud cerita ini.

Alkisah terdapat seorang pemuda  yang bertugas menjaga kios toko milik tetangga. Dari sana ia memperoleh penghasilan untuk mencukupi kehidupannya, dan sampai akhirnya mampu membeli kios baru untuk mendirikan toko sendiri.

Ia lalu berusaha dengan giat dan berhasil mengembangkan bisnisnya. Kiosnya semakin hari semakin bertambah. Bermula dari satu, dua, tiga ... lalu puluhan, dan setiap bulan bertambah hingga kini ia telah memiliki 99 kios sebagai bisnisnya. Ia menjelma sebagai pemuda mapan dan kaya.

Pemuda itu terus menaikkan tergetnya. dan keinginannya kali ini adalah ia harus bisa memiliki 100 kios! Ya, 100 kios! Ia tertarik dengan kios milik temannya yang ada di pusat kota dan berniat untuk membeli kios tersebut. Setelah melakukan penawaran, ternyata temannya menolak. Pantang mundur, ia lalu memberikan penawaran yang lebih besar lagi. Ternyata temannya menolak lagi. Tidak menyerah, ia lalu menambahkan bonus, harga yang lebih besar, iming-iming liburan, dan macam-macam. Lalu temannya menjawab, "Maaf, aku dan keluarga sudah nyaman di sini dan kami pikir tidak akan berpindah lagi." Intinya sang teman tetap menolak.

Ia terus berpikir dan mengerahkan kemampuannya untuk mendapatkan kios itu. Begitu fokusnya ia pada satu kios, kiosnya yang lain tidak terurus dan sedikit demi sedikit tutup. Ia masih menginginkan kios itu hingga kiosnya yang tutup terus bertambah setiap minggunya. Sampai suatu saat ia sadar bahwa sebagian besar bisnisnya telah mati, yang ia miliki sudah semakin habis, dan apa yang diinginkannya terkerat pupus...

Naudzu billahi min dzalik ... Demikianlah ceritanya.

Kufur nikmat membuat manusia tidak mencintai apa yang ia miliki dan senantiasa mengharapkan apa yang orang lain punyai. 

Mungkin kita pernah mengeluh, "Andai saja rumahku banyak dan besar-besar seperti si Fulan...." Si saat seperti itu, apakah kita sadar bahwa masih banyak saudara kita yang bahkan rumah pun masih tidak ada? Maka, sebelum bertanya 'Mengapa rezekiku tidak bertambah?' Alangkah baiknya jika terlebih dulu kita berpikir, 'Apakah aku sudah bersyukur terhadap apa yang  kupunyai?' Karena janji Allah akan menambah rezeki jika kita bersyukur, dan akan memberi azab jika kita kufur.

Allah berfirman dalam Q.S. Ibrahim ayat 7: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Begitulah ... Bersyukur itu atas apa yang sudah ada, bukan apa yang seandainya ada.

Bersyukurlah...

Baginda Rasulullah Muhammad saw juga berkata, "Lihatlah kepada siapa yang lebih rendah darimu, dan jangan lihat siapa yang lebih atas darimu (dalam urusan harta dan dunia). Demikian itu lebih pantas bagimu agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu." (HR Bukhori dan Muslim)

Ketika mengingikan mobil, "Adakah orang lain yang tak memiliki kendaraan?"
Ketika hendak makan, "Adakah saudaraku yang masih kelaparan?"
Dan ketika menginginkan sesuatu yang baru, "Adakah orang lain yang belum punya hal ini? Sudahkah aku memaksimalkan apa yang ada?"

Selama kita bersyukur, Insya Allah tidak ada kata kekurangan. Rezeki kita tercukupi karena kebutuhan jiwa terpenuhi.

Indramayu, 24/2/2016.

Silakan share ... Semoga bermanfaat.

Jumat, 01 Juli 2016

Mari Memperbanyak Teman di Dunia Nyata Maupun Maya

Awal mula menggunakan facebook (fb), saya tidak pernah like apapun, dan jarang sekali memberikan komen-komen apapun. Aktivitas yang saya lakukan di fb adalah tidak lebih dari sekedar bikin status. Dalam pemikiran saya, facebook hanyalah sebuah tren yang sudah menjamur di kalangan teman-teman. Dan artinya, jika saya tidak mengikuti tren tersebut, saya akan dianggap kuno dan ketingalan jaman.

Beranjak menjadi mahasiswa, aktivitas saya di fb menjadi lebih beragam. Saya mulai like dan komen, juga share-share hal lain yang kiranya bermanfaat untuk teman-teman. Mungkin karena saya juga sudah berpisah dengan teman-teman semenjak kami lulus. Sehingga hubungan kami hanya bisa dijalin melalui media komunikasi dan salah satunya adalah fb.

Ternyata, saat saya mulai berinteraksi, saya mulai merasakan nikmatnya menggunakan fb. Saya bisa menjalin hubungan dengan sahabat-sahabat tanpa harus bertatap muka langsung. Dan telah saya sadari bahwa fb bukan hanya menjadi sebuah tren yang menjamur, melainkan ianya adalah sebuah media/alat yang membantu kita berkomunikasi dengan banyak orang tanpa harus bertatap langsung dan bahkan bisa membantu kita mendokumentasikan apa-apa yang kita lakukan. Sehingga fb bukan hanya sebuah "iseng-isengan", tapi ia adalah "kebutuhan" (Ini menurut saya; tergantung bagaimana kepentingan orang itu terhadap fb).

Sejak saya kelas 12 (sekitar tahun 2013) hingga sekarang (17 Juni 2016), saya tidak pernah add teman di fb kecuali beberapa orang yang memang saya anggap istimewa. Saat itu teman saya di fb hanya sekitar 400-an, dan sekarang saya sudah memiliki teman lebih dari 2000 akun. Artinya ada sekitar 1600 yang meng-add saya untuk menjadi teman dan sudah saya konfirmasi.

Perbanyak teman di facebook
Jangan lupa add facebook saya sebagai teman ^_^

Dulu logika saya mengatakan bahwa orang-orang yang meng-add kita, merekalah yang memiliki respect kepada kita. Tapi sekarang saya memiliki pemikiran baru; bahwa dengan memiliki banyak teman (dalam hal ini adalah fb), kita bisa lebih banyak berinteraksi dan menyebarkan apa yang ada di pikiran kita--seperti gagasan/ide atau bahkan tanggapan kita terhadap suatu peristiwa, secara lebih cepat, kepada banyak orang, tanpa memperhitungkan apakah mereka yang meng-add kita atau kita yang meng-add mereka untuk menjadi teman.

Sebetulnya fb itu memiliki banyak fungsi tergantung siapa orangnya dan bagaimana ia menggunakan akun tersebut untuk kepentingannya. Fb bisa digunakan sebagai media bisnis/jualan, menjalin komunikasi/pertemanan, melakukan dakwah atau menyebar kebaikan, dll. Ust Felix Siauw adalah salah satu contoh orang yang telah memanfaatkan media sosial untuk kepentingan menyebar kebaikan.

Oleh karena itu, marilah kita memperbanyak teman; baik dalam dunia nyata maupun dunia maya. Saya sendiri juga akan menambahkan orang-orang baru untuk dijadikan teman (fb). Karena fb mengizinkan kita memiliki teman sampai dengan 5000 akun. Dengan memiliki banyak teman, kita bisa menyampaikan gagasan kita ke lebih banyak orang. Jadi, marilah memperbanyak teman dan menggunakan media ini sebagaimana mestinya dengan menyebar dan berbagi kebaikan kepada sesama.

Ini sekedar pemikiran saya sendiri. Yang nggak setuju, nggak boleh share dan nggak boleh komen. Hehehe ... Ayuk share kebaikan yang banyak.

Indramayu, 17/6/2016.